Perspektif Edukasi dalam Jurnal Perhotelan

Perhotelan dan pariwisata adalah dua pengetahuan yang saling berkaitan, terutama jika berbicara mengenai industri pelayanan. Sebagai bagian dari dinamika ekonomi, keramahan dalam pelayanan merupakan salah satu daya tarik tersendiri dalam aspek kultur dan budaya tiap-tiap jasa wisata.

Pada sisi edukasi, adanya informasi sebagai bahan referensi merupakan sarana penunjang untuk perluasan pengetahuan dan pembentukan pola pikir.

Menjadi salah satu media informasi, jurnal perhotelan memiliki tujuan umum dalam menyebarluaskan pengetahuan perhotelan secara edukatif. Dengan target peningkatan mutu terhadap keterampilan dan sikap positif, maka kegunaannya akan berdampak besar bagi pendidikan perhotelan. Terlebih apabila dilihat secara global, industri pariwisata yang memadukan penginapan, makanan, atraksi, budaya dan industri perjalanan, merupakan industri besar dengan kebutuhan tinggi terhadap tenaga kerja terampil.

Dalam perkembangan bidang pendidikan perhotelan khususnya terkait kemampuan para lulusan untuk dapat bersaing secara global, beberapa akademi dan sekolah perhotelan mulai berlomba-lomba dalam membentuk para peserta didiknya agar memiliki kemampuan sesuai dengan standar kompetensi kerja nasional dan internasional. Dengan demikian maka akan senantiasa tercipta profesionalisme industri khususnya di bidang perhotelan, baik secara nasional maupun internasional.

Sebagai jurnal perhotelan, maka perhotelan.org dituntut untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan cara menyediakan informasi strategis dan wawasan yang jelas mengenai aspek hospitality secara global dan isu-isu pariwisata serta berbagai peran penting dalam industri perhotelan. Terutama bagi mereka yang tertarik dalam bidang perhotelan.

 

Pariwisata dan perhotelan dalam perspektif komunikasi pemasaran

Komunikasi pemasaran merupakan aspek kunci dari pelayanan pariwisata dan perhotelan. Sektor ini sangat tergantung pada pemasaran karena karakteristik khusus industri sebagai layanan. Komunikasi pemasaran bukan hanya sebatas iklan, namun lebih kearah bagaimana menyampaikan pesan yang tepat kepada orang yang tepat. Sebagai salah satu faktor paling penting dalam menentukan keberhasilannya, marketing komunikasi membentuk sub bidang studi dalam disiplin ilmu pemasaran. Namun ada beberapa studi yang berfokus khusus pada komunikasi pemasaran untuk layanan, dengan melihat secara rinci ke dalam masalah komunikasi, teori dan strategi menghadapi pariwisata kontemporer dan sektor perhotelan. Hal ini terlepas dari kenyataan bahwa sektor ini merupakan sektor jasa yang mengandalkan pengalaman pada nilai-nilai ‘representasi’.

Representasi dapat digambarkan sebagai tayangan, gambar dan penggambaran tentang pengalaman atau tentang apa yang bisa diharapkan dari penyedia layanan. Meskipun ada beberapa perhatian akademik terhadap dimensi pemasaran dalam jasa pariwisata dan perhotelan pada literatur bisnis dan manajemen, juga pada sosiologi pada semiotika representasi brosur wisata. Namun sangat sedikit perhatian yang diberikan pada dimensi komunikasi pemasaran, konsep, strategi, masalah dan tantangan yang mendasari fungsi penting dalam lingkungan sektor jasa yang dinamis. 

 

Pariwisata dalam definisinya

Pariwisata telah didefinisikan sebagai hubungan yang timbul dari kegiatan orang-orang yang bepergian dan tinggal di tempat-tempat di luar lingkungan mereka selama tidak lebih dari satu tahun berturut-turut untuk bersantai, berbisnis dan melakukan keperluan lainnya. Industri pariwisata adalah industri yang sangat luas, memiliki fokus pada konsep seperti perkembangan daerah, destinasi wisata, dan beberapa elemen dari sektor jasa yaitu akomodasi dan transportasi. Ada sedikit keraguan bahwa pariwisata sangat rentan terhadap gejolak ekonomi dalam hal perubahan pendapatan para konsumen. Sebuah isu dalam hal komunikasi pemasaran yaitu bahwa pariwisata adalah pengalaman konsumen dalam hal kenyamanan dan keunggulan produk, pengalaman ini sebagai jasa dan layanan menciptakan kebutuhan untuk menekankan pesan yang menarik bagi perasaan konsumen dalam kaitannya dengan pemasaran.

Selain itu, pariwisata sangat rentan terhadap kekuatan eksternal atau perubahan pada perekonomian negara-negara tujuan, seperti krisis politik atau perubahan tiba-tiba terutama gejolak nilai tukar mata uang. Berita liputan media melalui tempat dan peristiwa juga menghadapkan konsumen dalam informasi mengenai tujuan wisata, yang dapat berdampak negatif atau positif. Dalam hal ini konsumen pariwisata dapat sangat berubah-ubah.

Wisatawan kadang-kadang didorong oleh keinginan untuk melihat dunia dan menjelajahi tempat-tempat baru, sehingga sangat kecil kemungkinan para wisatawan untuk menjadi setia kepada satu tujuan atau negara, meskipun pada sisi lain konsepsi motivasi wisatawan dapat distimulasi. Adanya analisis tren wisata dapat berguna dalam mengidentifikasi adat istiadat sosial yang lebih luas dan pola perilaku atau sikap para wisatawan. Salah satu aspek yang sangat penting dari turis adalah bahwa mereka ingin berbicara mengenai pengalaman mereka kepada orang lain, ini disebut ‘komunikasi word of mouth‘, dan itu selalu disebut-sebut sebagai salah satu promosi yang sering digunakan, terpercaya, dan dapat diandalkan sebagai sumber informasi dalam mempengaruhi pilihan wisata dan perilaku konsumen.

 

Perhotelan dalam definisinya

Definisi konvensional hospitality yang berfokus pada penyediaan tenaga kerja dan jasa dalam negeri untuk menghasilkan devisa memiliki tuntutan pelayanan. Hal tersebut meliputi makanan, minuman dan penginapan yang ditawarkan untuk dijual. Jelas, layanan perhotelan jauh lebih dari sekedar tentang menjual makanan dan minuman atau menyediakan orang dengan atap di atas kepala mereka untuk bermalam. Hal ini dapat terlihat bahwa organisasi perhotelan menarik gambar dan retorika keramahan yang menghubungkan lebih mendalam dengan makna historis dan sosio-antropologis ‘hospitableness’ yang memegang pentingnya komunikasi pemasaran.

Ada variasi besar dalam kisaran harga layanan pada fitur produk dan layanan, sehingga kualitas layanan harus sangat hati-hati didefinisikan dan dikomunikasikan kepada khalayak yang dipilih. Jelaslah bahwa layanan perhotelan memiliki sudut intrinsik terhadap industri pariwisata, dan industri perhotelan menyajikan berbagai dimensi lebih luas dari sekedar memenuhi kebutuhan klien. Tidak hanya hanya menjual produk kepada wisatawan asing, namun juga memberikan pelayanan berkesan kepada seluruh klien, baik nasional maupun internasional.

Industri perhotelan dapat dibagi menjadi komponen yang berurusan dengan murni penyediaan akomodasi seperti rumah bertamu, penginapan keluarga, situs peziarah, layanan penginapan pemerintahan, rumah singgah, situs perkemahan, dan beragam variasi model lainnya. Mereka yang menawarkan berbagai layanan seperti hotel; menyediakan restoran; ruang pertemuan dan ruang konferensi; rekreasi; kesehatan; kecantikan dan perawatan spa serta akomodasi. Perbedaan lebih lanjut muncul memperhitungkan mereka yang menawarkan sektor yang berbeda namun saling melengkapi seperti MICE dengan kategori layanan pengelolaan acara dan hal seputar pengadaan kegiatan menggunakan fasilitas hotel. Sektor ini juga dapat dibedakan dengan orientasi pasar atau konsumen tertentu.

Industri perhotelan juga ditandai sebagai aktivitas gaya hidup (lifestyle). Meskipun layanannya hanya sebatas kebutuhan pokok, makanan, minuman dan tempat tinggal yang ditujukan sebagai pengalaman konsumen. Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi tren yang mengungkapkan ‘lifestyle’ hospitality, terutama digunakan sebagai hadiah untuk hasil kerja keras di beberapa negara maju. Oleh karena itu, dalam cara yang mirip dengan pariwisata, perhotelan dalam segi hospitality telah menjadi produk konsumen yang memberikan pengalaman, dimana secara eksplisit bertujuan untuk menggugah perasaan konsumen.

–